SELAMAT DATANG ...

SELAMAT DATANG DAN BERGABUNG DENGAN BLOG PRIBADI SAYA, MARI BERBAGI INFORMASI DAN PENGALAMAN

Selasa, 12 April 2016

OPINI

Spirit Lingkungan dari Talang Tuwo[1]
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah)

                Beberapa waktu lalu, sejumlah kalangan di Sumatera Selatan mencoba membangkitkan batang terendam, menelusuri keberadaan Prasasti Talang Tuwo, yang diyakini dibuat semasa Kerajaan Sriwijaya, Abad ke-7 M silam. Lokasinya berada di sekitar daerah Talang Kelapa saat ini. Prasasti aslinya sendiri sudah lama dipindahkan ke Arsip Nasional Jakarta. Tetapi lokasi ditemukannya prasasti tersebut, hanya sebagian kecil yang tahu tempatnya.
                Prasasti Talang Tuwo bisa dikatakan adalah salah satu bukti sejarah terbesar yang ditinggalkan oleh Kerajaan Sriwijaya, karena berisi tulisan yang cukup panjang dibandingkan prasasti lain yang sudah ditemukan sebelumnya. Isi dari prasasti ini juga memiliki perbedaan dari prasasti lain, yaitu fokus pada penataan lingkungan dan pembuatan taman-taman. Intinya bicara tentang bagaimana lingkungan harus dikelola, ditata dan dimanfaatkan. Baginda Sri Jayanasa adalah tokoh utama yang disebutkan dalam prasasti tersebut, yang mempelopori pendirian Taman Sriksetra.

Rabu, 24 Februari 2016

OPINI

Pseksu, Sisi Lain Lahat[1]
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Doktor Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah)

            Awal Februari lalu, saya mengantarkan 3 kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke Kabupaten Lahat, tepatnya di Kecamatan Pseksu. Nama ini agak unik karena sekilas bukanlah bahasa daerah setempat. Pseksu ternyata adalah singkatan dari Penjalang Suku Empayang Kikim Saling Ulu. Membaca nama ini, kita akan bersepakat bahwa Pseksu adalah salah satu daerah tertua di Lahat. Tak dipungkiri memang karena daerah ini, yang awalnya bergabung dengan Kecamatan Lahat, punya sejarah panjang terkait keberadaan masyarakat di negeri seribu situs ini.

Minggu, 17 Januari 2016

Opini

Hakim sebagai Komunikator
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah)

           
            Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang, Parlas Nababan menjatuhkan vonis yang membatalkan semua tuntutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap PT Bumi Mekar Hijau (BMH), 30 Desember 2015 lalu. Akibatnya, PT BMH yang awalnya dituduh terlibat dalam pembakaran lahan dan hutan tahun 2014, yang menjadi salah satu penyebab kabut asap di Sumsel, dinyatakan tak bersalah. Jauh sebelum kasus Hakim Parlas, pernah pula hakim Sarpin mengambil keputusan untuk menerima pra peradilan yang diajukan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan, yang berakibat pada bebasnya sang jenderal dari status tersangka korupsi yang sudah ditetapkan KPK. Selain dua kasus yang cukup menyita perhatian publik ini, banyak pula kasus-kasus lain yang dinilai banyak pihak mencederai rasa keadilan publik. Intinya adalah, sang hakim dianggap publik tidak mengambil keputusan secara adil.

Selasa, 29 Desember 2015

OPINI



Burung Migran dan Komunikasi Lingkungan
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si
(Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah)

Sekitar bulan Oktober hingga Desember setiap tahunnya, ribuan dan bahkan jutaan burung dari berbagai belahan dunia, terbang menyusuri berbagai benua, melintasi samudra, dan selama beberapa waktu mampir ke Sumsel, tepatnya di Taman Nasional (TN) Sembilang, pinggiran daerah Kabupaten Banyuasin, untuk kemudian pindah lagi ke tempat lain. Ini dikenal dengan fenomena burung migran, dan beruntunglah Sumsel karena menjadi salah satu tempat persinggahannya. Paling tidak, melalui fenomena ini, kita bisa saksikan keragaman aneka burung di dunia ini, dan paham juga bagaimana keterkaitan keseimbangan ekosistem.

Sabtu, 05 September 2015

Poster

Poster yan
g dipublikasikan dalam forum Annual International Conference on Islamic Studies, 3-6 September 2015, Manado, Sulawesi Utara

Selasa, 25 Agustus 2015

OPINI



Mencari Polisi di Eropa
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Dosen UIN Raden Fatah dan Peserta Utrecht Summer School 2015)

            Indikator kebahagiaan dan kenyamanan sebuah tempat, biasanya adalah soal keamanan. Semakin aman negara tersebut, maka semakin nyaman pula tinggal di sana. Negara yang aman dan nyaman, akan berkorelasi pula dengan tingkat ketertiban dan kedisplinan warga negaranya. Bisa dipastikan pula bahwa negara yang tingkat keamanan dan kenyamannya tinggi, maka aparat keamanan juga tidak terlalu diperlukan. Mereka tetap ada, namun jarang terlihat di depan publik. Artinya ada korelasi antara kemunculan aparat keamanan dengan tingkat kenyamanan sebuah daerah. Hipotesis ini agaknya bisa dibuktikan antara realitas di Eropa, khususnya di Belanda, Belgia, Jerman, dan Prancis.